Langsung ke konten utama

Hujan dan Secangkir Kopi


Di tengah rintik hujan yang menghujami Jakarta seakan menjadi malapetaka untuk Anggi, gadis itu hanya bisa meratapi derasnya hujan sembari menggerutu. Kakiknya tidak bisa diam berhentak membentuk irama dengan nada cepat, mulutnya mencebik kesal, sedangkan kedua alisnya mengkriting. Ia sedang terburu-buru namun hujan menghalanginya untuk pergi. Bisa saja ia menerobos hujan demi menikmati pulau kapuk dengan secangkir teh hangat buatan ibunya, namun ia sedang membawa pekerjaan penting yang tentunya tidak boleh rusak.

Anggi menghela nafas berat setelah menunggu beberapa menit di depan lobby. Ia melangkahkan tungkai kakinya menuju pantry di kantornya. Ketika ia berjalan beberapa langkah dari muka pintu, ia disambut dengan aroma kopi yang memenuhi area pantry. Ruangan itu dipenuhi oleh berbagai macam perabotan dapur dan tentunya sebuah meja berukuran sedang dengan beberapa kursi yang mengelilinginya. Mata Anggi tertuju pada satu pria yang sedang menikmati kopi dengan aroma menyengat itu, Ardhi namanya, ia merupakan teman sekantor dan satu devisi dengan Anggi.

Gadis itu menarik kursi dengan gaya modern bewarna krem dan mengistirahatkan tubuhnya disana. “Aduh capek banget gue nunggu di depan lobby,” keluhnya, tangannya menopang beratnya kepalanya, ia menatap Ardhi bosan. Ardhi terlihat menghentikan aktivitasnya ‘minum cantik’ versi pria-nya, sehingga matanya kini tertuju pada teman perempuannya.

“Salah lo juga ngga bawa payung,”sahutnya santai. “Udah ngga bawa payung, ngga bawa mobil lagi, lengkap penderitaan lo.” Anggi mencebik kesal mendengar ejekan dari pria didepannya.

Ia semakin menyenderkan punggungnya ke belakang, sensasi empuk bisa ia rasakan dengan indera perabanya. “Idih, hari Jum’at bawa mobil? Bisa mati berdiri gue gara-gara macet,” tangannya melambai-lambai memperagakan bila hal itu tidak mungkin terjadi. Anggi memajukan tubuhnya kearah Ardhi, kedua tangannya menyilang dan saling mendekap. “Lo mau tau yang paling parah?” Salah satu alis Ardhi terangkat mendengarnya, garis bibirnya membentuk garis miring dan menampilkan lesung pipitnya di bagian kiri. “Ngga ada ojol yang mau ambil?” Tiba-tiba Anggi menghentekkan meja dengan kedua tangannya, “Yak benar sekali, hadianya bisa lo beli sendiri di indomart.”

“Gue lebih suka yang gratisan, sori,” tolak Ardhi dengan halus. Ia kembali menyesap kopi hitam pekat dengan wadah gelas berukuran sedang dan berwarna broken white. Ia begitu menghayati waktunya dalam menikmati sensasi cairan kopi yang merasuki kerongkongannya dan baunya seakan memanjakan indera penciuman yang menggodanya untuk menikmatinya hingga habis. Setelah tetes terakhir membasahi lidahnya, ia meletakkan kembali gelas yang berada di genggaman tangannya di atas meja. “Dhi, please deh, minum kopi jangan lebay ih. Kesel gue ngeliatnya! Udah kayak ngeliat iklan kopi di tv,” kata Anggi sembari memasang wajah jijik.

Kedua alis Ardhi yang tebal dan terurus, mengerut tidak suka. “Ini tuh enak banget, Nggi! Perasaan gue pas minum kopi tuh bagaikan lo yang tergila-gila sama boyband korea!” jawabnya tidak terima. Anggi mengembalikan posisi duduknya, percuma berdebat dengan cowok melambai di depannya. Kedua matanya yang dihiasi dengan iris cokelat tua memandangi rinai hujan di luar jendela. Rintik hujan tidak juga reda di makan waktu. Pikirannya melayang tentang aktivitas yang bisa ia lakukan jika hujan ini tidak datang. Sederet judul drama korea terbesit di pikiran gadis itu, berputar-putar sehingga membuatnya hampir membenci hujan.

“Lo mau buru-buru nontonin cowok banci dari korea itu ya?” sahut Ardhi membuyarkan fantasi Anggi yang sudah kemana-mana. “Apa sih lo ganggu aja! Gue kangen sama my baby Xieon, dramanya udah updet hari ini!” gerutu Anggi. Ardhi menyodorkan segelas cairan hangat bewarna cokelat gelap, sehingga menimbulkan pertanyaan di wajah Anggi. “Tenang, itu hot chocolate kok,” kata Ardhi menjawab pertanyaannya, ia sangat mengenal gadis didepannya itu yang tidak suka kopi dalam bentuk apapun, pahit katanya, aneh rasanya, dan segala alibi yang pernah gadis itu keluarkan agar tidak mengomsumsinya. Anggi menerima gelas itu dari genggaman Ardhi sebelum ia bisa menyesap hangatnya cokelat panas buatan Ardhi. Kedua matanya berbinar setelah beberapa teguk, kemudian ia menoleh. Ardhi yang merasa diperhatikan, mengadahkan kepala menatap kedua bola mata itu. “Enak banget, dhi! Lo bisa buka cafe lo sendiri kalau gitu! Terus lo bisa hire gue buat nyicip mahakarya lo itu,” katanya dengan bangga. “Lo bahkan ngga suka kopi, nggi. Gimana mau nyicipin karya gue yang hampir semuanya berhubungan dengan kopi?” tanya Ardhi tidak percaya, sudut bibirnya sedikit terangkat mendengar lanturannya. “Kalau gitu gue spesialisasi buat nyicip karya lo yang bersifat manis!” jawab Anggi sembari menunjukkan ibu jarinya.

“Yakali, Nggi. Rugi gue entar, nge-hire orang ngga mutu buat usaha gue,” kata Ardhi seolah mengejek. “Duh, gini-gini gue punya taste yang highclass.” “Lidah lo kan’ asal gratis, semuanya dibilang enak.” Kata Ardhi sebelum tawa renyahnya pecah, menampilkan kedua lesung pipit dan sederet gigi putihnya. Anggi mendecih tidak terima, “Ya lo kan’ sebelas dua belas sama gue, sama-sama suka gratisan!” “Beda dong, kalau gue masih milih-milih, nah elu, semuanya lo embat.”

“Udah dong! Mendingan lo anterin gue pulang, emak gue seneng deh kalau gue dianter cowok,” bujuk Anggi sembari mengedip-kedipkan matanya. Ardhi melihat perlakuan temannya itu hanya bisa tertawa sembari mengejek sehingga mengacu Anggi untuk membuat serangan balik. Pantry kala itu dipenuhi oleh dipenuhi oleh canda dan tawa yang ditimbulkan oleh kedua insan di dalamnya. Anggi sepertinya tidak sadar jika awan sudah tidak mengeluarkan air matanya, hingga Ardhi memberitahunya, “Gi, dah berhenti tuh! Pesen ojol sanah, kali emak lo seneng walau yang nganter lo dah beristri,” bualnya sebelum ia menertawai Anggi. “Yee ni bocah, ketawa aja terus, dapet pacar bar-bar kek gue tau rasa lo.”

Ardhi berusaha meredakan tawanya sembari mengusap bulir air mata di sudut matanya. Ia memperhatikan Anggi yang kala itu sibuk menunduk dan berkutat dengan ponsel pintarnya untuk memesan ojek online. “Gi,” panggil Ardhi. “Hmmm..” “Gue sebenarnya B aja kalau lo jadi pacar gue.” Kedua mata Anggi membulat setelah mendengar ucapan dari mulut Ardhi itu. Ia mengadahkan kepalanya, menatap Ardhi yang sedikit lebih tinggi daripada dia. “Hah” “Iya... Tapi boong,”kata Ardhi sembari menampilkan wajah ‘cie kena jebakan betmen’.

Wajah Anggi semakin memerah hingga ke ubun-ubun bagaikan kepiting rebus, sungguh ia malu pernah beberapa detik percaya akan pengakuan dari Ardhi, pujaan hatinya. Ia berdiri sembari mengamit tas ranselnya dan bersiap untuk memukul Ardhi dengan tas yang berisi penuh dengan berkas-berkas klien. “Aaaa! Lo nyebelin banget sih, ga lucu sumpah, garing banged,” Anggi mengejar Ardhi yang juga sudah berlari menjauhi pantry menuju kubikelnya. Rambut Anggi yang sebelumnya tertata rapi menjadi keluar jalur dan menampilkan kilau rambut yang dipantulkan oleh cahaya lampu. Setelah Anggi berhasil menggapai Ardhi, ia tersenyum puas karena ia bisa membalas dendam sepuasnya. “Mampus lo kalah sama cewek, cemen lo!” tawanya penuh dengan kemenangan. Ia memiting kepala Ardhi dengan kepalan gemasnya dan membuat Ardhi merintih sakit. “Aduh duh duh! Udah, Gi!” mohon Ardhi dengan sangat. Ia tidak berdaya di dekapan Anggi. “Bilang apa lo sama gue!?” paksa Anggi. Ia masih gemas dengan perilaku Ardhi sebelumnya yang membuatnya menambah tenaga untuk menyiksa Ardhi.

Saranghaeyo” jawab Ardhi dengan memperagakan bentuk hati dengan tangannya sembari mengedipkan sebelah matanya dan bibirnya membentuk senyuman ‘pepsodent’-nya . “Ndasmu!” maki Anggi yang semakin gemas dengannya. Wajahnya semakin memerah. Ia malu, sangat-sangat malu yang bercampur kesal maupun senang. Jantungnya kini bekerja secara abnormal, sehingga Anggi semakin gugup untuk kembali memaki Ardhi. “Gue serius loh, Nggi,” sahut Ardhi sembari menatap wajah Anggi yang belum bisa menjinakkan detak jantungnya.

“Lo...” Anggi melonggarkan dekapannya dan membuat Ardhi bisa menghirup udara segar dengan bebas. Ardhi melonggarkan balutan dasinya dan segera membereskan meja kubikelnya. Komputer yang kini berlayar hitam dengan alat tulis kantor dan tumpukan kertas tugas, telah ia bereskan dan tertata rapih di tempatnya. Anggi selalu menyukai kubikel milik Ardhi yang berbeda dengan kubikel milik teman kerja laki-lakinya yang hanya mewarnai kubikel mereka dengan tumpukan berkas-berkas klien, tentunya membuat pemiliknya tidak betah berlama-lama di tempatnya. Sedangkan Ardhi, laki-laki itu mewarnai kubikelnya dengan berbagai macam barang yang memanjakan mata. Entah itu figuran kecil berisi foto kucingnya, beberapa memo kecil yang menghiasi dinding kubikelnya, satu tanaman kaktus dipojok meja, atau puluhan bungkus kopi di laci mejanya yang ketika di buka mampu menggoda iman orang yang di dekatnya, pengecualian untuk Anggi. Anggi pernah berfikir jika sebenarnya Ardhi ini berjiwa perempuan tapi terperangkap di tubuh laki-laki.

Anggi cukup lama terpaku memerhatikan punggung bidang milik Ardhi, mungkin ia tidak setampan bias-bias korea kesukaannya, atau mungkin Zayn Malik. Ah atau mungkin ya? Di mata Anggi, Ardhi seakan menjadi sosok yang paling tampan dengan rambut pendek hitam bergelombang dengan rahang tegas dan perawakan yang gagah, namun sedikit melambai kata Anggi. Anak itu kerjanya mengomentari pakaian yang dikenakan oleh Anggi atau sifat-sifatnya yang katanya tidak ‘feminim’ atau mungkin menggossip cowok paling ganteng di perusahaan mereka bekerja, bahkan di kantor sebelah.


Tatapan Anggi penuh dengan harapan akan kepastian. Setidaknya ia harus tahu kalau Ardhi ini beneran ngga melenceng dari kodratnya menjadi laki-laki. Ardhi membalikkan badannya secara tiba-tiba dan membuat Anggi tercekat beberapa detik. Kini Anggi berada di rangkulan Ardhi sembari berjalan dengan santainya menuju lobby. Lebih tepatnya Ardhi menyeret Anggi dengan tangan kirinya dan merangkul tas ranselnya di bagian kanan. “Lo kira gue kambing lo seret-seret!?” kesal Anggi tidak terima diperlakukan seperti hewan, ia mengutuk tinggi badannya yang hanya sebatas pundaknya saja sehingga ia harus rela menghirup aroma badan Ardhi. Tidak, ia tidak benci karena aroma Ardhi yang tidak sedap, wangi kok, Ardhi mempunyai wangi kopi yang khas yang mampu memabukkan Anggi ke dalam lubang asmara.

Ardhi menoleh kearah Anggi dengan senyuman lebar, “Aww jangan galak galak dong, Gi! Gue mau nganterin lo pulang nih, naik mobil biar gue dikira tajir sama emak lo.” “Udah lo, kalo cuma buat pamer mobil, di rumah gue juga ada mobil!” kata Anggi yang berusaha melepas tangan Ardhi. “Yaudah, gue mau pamer kalau gue bisa macarin anaknya aja.” “!”

rainnemeshard/2017


Komentar